Rabu, 08 September 2010

Gajah Mada Dari Lamongan ?

MAHA PATIH GAJAH MADA
DARI DESA MADA LAMONGAN ?
Lamongan, DATA News – Belum lama ini, Masfuk ketika masih menjabat Bupati Lamongan,, membentuk tim beranggotakan sejumlah budayawan dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) guna menelusuri sejarah Patih Gajah Mada di Lamongan, tujuannya untuk menguak adanya bukti otentik bahwa Gajah Mada berasal dari Lamongan
Kita tahu bahwa Sumpah Palapa yang dahulu diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit tak asing lagi dan sumpah tersebut digunakan nama satelit Indonesia yaitu satelit Palapa.
Ke kharismatikan tokoh Maha Patih Gajah Mada, kini mulai ditelisik asal usul yang sebenarnya, hal ini karena selama ini dari mana asal usulnya masih simpang siur. Ada kemungkinan Gajah Mada berasal dari daerah Lamongan Jawa Timur.
Beberapa waktu lalym budayawan Viddy AD Daery dari Lamongan yang pernah berkiprah di dunia teater di Surabaya Ketika Sam Abede Pareno masih aktif di Dewan Kesenian Surabaya dan lama berada di TPI Jakarta beberapa waktu lalu bertutur.
    Menurut Viddy ada sejumlah cerita rakyat (folklore) yang umum dikisahkan di wilayah pedalaman Lamongan mengenai keberadaan patih yang terkenal dengan Sumpah Palapanya tersebut.
Berdasar cerita rakyat itu pula, tutur Viddy, Gajah Mada adalah anak Raja Majapahit secara tidak sah (istilahnya Lembu Peteng atau Anak Haram) dengan gadis cantik anak seorang Demung (Kepala Desa) Kali Lanang, anak itu dinamai Joko Modo atau jejaka dari Desa Mada, yang diperkirakan kelahirannya sekitar tahun 1300.
Dituturkan  oleh Viddy bahwa kakek Gajah Mada yang bernama Empu Mada, Joko Modo dibawa hijrah ke Desa Cancing, Kecamatan Ngimbang, wilayah yang lebih dekat dengan Bluluk, salah satu Pakuwon di Pamotan, benteng Majapahit di wilayah utara, sementara benteng utama berada di Pakuwon Tenggulun, Kecamatan Solokuro.
Gajah Mada lahir di Lamongan salah satu bukti fisik bahwa adalah adanya situs kuburan ibunda Gajah Mada di Desa Ngimbang, menurut kepercayaan setempat, situs yang sampai sekarang masih ada itu masih dikeramatkan oleh sebagian warga.Makam tersebut sering disebut makam Mbah Ratu.
Viddy kemudian memberi analisisnya mengenai bukti hubungan Gajah Mada dan Lamongan. Ia mengemukakan, prestasi pertama Gajah Mada adalah menyelamatkan Jayanegara yang hendak dibunuh Ra Kuti, pemberontak yang tidak lain adalah Patih Kerajaan Majapahit sendiri.
Gajah Mada saat itu melarikan Prabu Jayanegara ke Desa Badander (sekarang bernama Dander masuk wilayah Bojonegoro arah Nganjuk dekat dengan Khayangan Api salah satu obyek wisata api yang timbul dari tanah tak pernah padam) di wilayah Pamotan.
Saat itu pangkat Gajah Mada yang diperkirakan baru berusia 19 tahun sudah naik menjadi Pimpinan Pengawal Raja (Bhekel Bhayangkara) karena kepiawiannya dalam olah kanuragan.
Sementara itu, Bambang.WS  seniman asal Surabaya dan pendiri Teater Bara Lilin serta pernah menjabat Litbang Sandradetka, Sanggar Netral dan hampir tiap malam dulu melatih seni teater di Taman Budaya Genteng Kali, menyambut baik upaya Masfuk Bupati Lamongan yang peduli kengan pelurusan sejarah Lamongan.
Bambang juga mengatakan bahwa dulu di sebuah hutan yang ada di daerah Modo terdapat petilasan batu bulat menyerupai cobek besar yang konon termpat untuk bertapa Joko Modo yang mungkin adalah masa kecilnya Gajah Mada.
Tetapi saat ini entah kemana batu tersebut, (tahun 1972 foto hitam putih batu petilasan Joko Modo dimiliki almarhum R.Soetadji pamannya Bambang WS yang rumahnya dekat dengan masjid Ngimbang dan memiliki 2 buah sendang disampingnya terbuat dari batu bata merah besar-besar).
    Tentang wujud bagaimana Gajah Mada, selama ini digambarkan sosok pria tambun mata sipit dan rambut terikat diatas kepala. Tampilan tersebut menurut Bambang WS sangat aneh, seorang ahli pertapa memiliki badan gendut dan mata sipit.
    Bentuk mata sipit, menunjukkan adanya jiwa kebohongan dalam diri orang yang memiliki sedang sosok dendut dengan ‘tongkrongan’ yang digambarkan sebagai Patih Gajah Mada kurang pas karena figur demikian konotasinya adalah watak kebengisan.
    Sedang figur ahli lelaku bertapa dan ahli dalam strategi perang, sangat bertentangan dengan gambaran sosok Gajah Mada, semoga upaya Masfuk dalam menelisik asal usul Maha Patih Gajah Mada dapat hasil untuk kebenaran sejarah Majapahit.
    Di Lamongan terdapat gunung pegat kearah Jombang, terdapat nama Desa Modo dan Tarik. Dua nama tersebut lengket dengan sejarah Majapahit. Modo adalah nama Maha Patih dan Tarik adalah nama hutan dihadiahkan raja untuk dibuka daerah baru.
    Saat ini, daerah Modo dan kawasan Tarik masih menyisakan hutan dan hamparan sawah. Kalau digali mungkin dua kawasan tersebut akan diketemukan bebatuan jaman peninggalan masa kejayaan Majapahit.(Agus/HI/Jn)

  © MEDIA DATA NEWS Online Redaksi: Jl.Suratan IV no 10 Mokokerto 61321 . Menyuarakan Aspirasi Rakyat

Ke : HALAMAN UTAMA