Tulungagung | Datanews - Siti Maulidiah (45) janda asal Kabupaten Blitar termasuk wanita yang tegar dan semangat hidup. Sudah tiga kali keluar masuk Rumah Sakit karena didiaknosa oleh dokter RSU Mardiwaluyo Kabupaten Blitar ini menderita penyakit liver. Setiap kali opname, perut Siti yang buncit seperti orang hamil sembilan bulan lebih di sedot hingga keluar cairan beberapa liter, perut Siti kembali kempis.
Namun hal itu tak berapa lama. Dengan Jamkesda Siti bisa mendapat gratis berobat. Setelah pengobatan yang ketiga kalinya, kondisi Siti sekarang memprihatinkan. Bak orang hamil 9 bulan. Untuk jalan saja Siti terasa berat dan sesak apalagi duduk merasa kesulitan.
Tinggal dikontrakan yang sebenarnya tidak layak huni, Siti tinggal bersama ibu kandungnya Siti Fatimah (63) dan dua adiknya. Karena di Blitar sudah tidak mempuyai family dan rumah terjual untuk biaya pengobatan, terpaksa Siti dan keluarga memutuskan untuk tinggal di Tulungagung.
Untuk makan sehari-hari dan kedua anaknya yang bekerja sebagai kernet bus di salah satu PO terkenal di Tulungagung.
Siti merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Salah satu adiknya yang kini tinggal bersamanya juga mengidap gangguan jiwa. Sungguh kehidupan yang sangat ironis.
Lingkungan sekitar sangat peduli dengan keadaan Siti dan keluarga, bahkan hampir tiap hari tetangga sekitar membantu makan seadanya. Kontrakan yang berada di RT.01/RW.02 Dusun Manggisan Desa Plosokandang Kabupaten Tulungagung merupakan masa depan bagi mereka.
Dalam satu bulannya Siti harus membayar kontrakan sebesar 50 ribu yang dibayar setiap 6 bulan sekali dan listrik 25 ribu tiap bulannya. Penyakit yang diderita Siti dirasa aneh, karena liver yang dideritanya tak kunjung sembuh.
Ibu kandung Siti menuturkan pada Datanews bahwa sebelum sakit, dulunya Siti Maulidiah pernah menolak lamaran dari laki-laki bernama Bejo asal Kanigoro Blitar.
Karena Siti lebih memilih pasangan hidup orang Malang kemungkinan besar anaknya dibuat seperti ini. Saya sudah berusaha ke orang tua dan meminta sama Allah agar anak saya bisa sembuh, dan saya di kasih umur panjang biar bisa merawat anak saya. (indh)
Namun hal itu tak berapa lama. Dengan Jamkesda Siti bisa mendapat gratis berobat. Setelah pengobatan yang ketiga kalinya, kondisi Siti sekarang memprihatinkan. Bak orang hamil 9 bulan. Untuk jalan saja Siti terasa berat dan sesak apalagi duduk merasa kesulitan.
Tinggal dikontrakan yang sebenarnya tidak layak huni, Siti tinggal bersama ibu kandungnya Siti Fatimah (63) dan dua adiknya. Karena di Blitar sudah tidak mempuyai family dan rumah terjual untuk biaya pengobatan, terpaksa Siti dan keluarga memutuskan untuk tinggal di Tulungagung.
Untuk makan sehari-hari dan kedua anaknya yang bekerja sebagai kernet bus di salah satu PO terkenal di Tulungagung.
Siti merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Salah satu adiknya yang kini tinggal bersamanya juga mengidap gangguan jiwa. Sungguh kehidupan yang sangat ironis.
Lingkungan sekitar sangat peduli dengan keadaan Siti dan keluarga, bahkan hampir tiap hari tetangga sekitar membantu makan seadanya. Kontrakan yang berada di RT.01/RW.02 Dusun Manggisan Desa Plosokandang Kabupaten Tulungagung merupakan masa depan bagi mereka.
Dalam satu bulannya Siti harus membayar kontrakan sebesar 50 ribu yang dibayar setiap 6 bulan sekali dan listrik 25 ribu tiap bulannya. Penyakit yang diderita Siti dirasa aneh, karena liver yang dideritanya tak kunjung sembuh.
Ibu kandung Siti menuturkan pada Datanews bahwa sebelum sakit, dulunya Siti Maulidiah pernah menolak lamaran dari laki-laki bernama Bejo asal Kanigoro Blitar.
Karena Siti lebih memilih pasangan hidup orang Malang kemungkinan besar anaknya dibuat seperti ini. Saya sudah berusaha ke orang tua dan meminta sama Allah agar anak saya bisa sembuh, dan saya di kasih umur panjang biar bisa merawat anak saya. (indh)
